August 18, 2006

Dreams

Hold fast to dreams
For if dreams die
Life is a broken-winged bird
That cannot fly.
Hold fast to dreams
For when dreams go
Life is a barren field
Frozen with snow.

~Langston Hughes

People move to their life’s sometimes without thinking where to going
Days pile up and they get sadder and lonelier without really know why they are so sad or how they get so lonely

Then something happens
They meet someone who look so certain way or there’s something in their smile

Maybe that’s falling in love is…

Finding someone who makes you feel little less alone

~Taken

entah apa yang membuatku meng-copy dua tulisan di atas. rasanya memang dua-duanya menggambarkan diri (harapan)-ku saat ini =)



August 15, 2006

in search of hope

kalau orang sudah berhenti berharap, api kehidupannya akan meredup…
kalau orang tidak punya cita-cita, hidupnya tidak akan terarah…

dua baris di atas rasanya klisé banget dan sering banget didenger. i always take it for granted. sampai bulan-bulan terakhir ini ketika aku merasakan hidup ini isinya hanya bangun tidur dan melakukan hal-hal yang sebenernya nggak penting, dan terlalu fun-oriented… meninggalkan banyak sekali tanggung jawab, dan lebih sering menambah “duka” untuk diri sendiri. hehehe, sebenernya yang terakhir ini bisa jadi biang keroknya kenapa hidupku tidak lagi berada pada jalurnya yang benar, malah blangsatan gak jelas… (atau itu pun hanya sebuah pembelaan dariku ?)

berharap & cita-cita… rasanya udah lamaa banget dua kata itu gak ada di hatiku, di pikiranku.
kayaknya aku butuh berharap dan memiliki cita-cita untuk dikejar… supaya hidupku rasanya tidak semembosankan ini…

berharap, berharap supaya hidupku bisa berubah. aku sebagai pribadi pun berubah. menjadi lebih baik. bersyukur dengan apa yang ada untukku sekarang ini. bisa menerima keadaan apa adanya. toch kalau bukan aku yang menerima diriku dan keadaanku, siapa lagi ?
berharap, berharap untuk selalu memiliki harapan untuk diperjuangkan.

cita-cita, rasanya dulu waktu kecil mudah sekali menjawab pertanyaan orang-orang, “adek, kalau besar mau jadi apa?” atau pun kalau harus mengisi biodata, pasti dengan mantap bisa mengisikan isian mengenai cita-cita: dokter, presiden, polisi, orang kaya, anak sholeh. serentetan profesi dan gambaran mengenai diri 15-20 tahun yang akan datang, tergambar jelas di kepala untuk menjawab hal-hal yang berkaitan dengan cita-cita. tapi setelah usia melewati dua dekade. rasanya untuk memiliki cita-cita saja takut. takut kalau tidak bisa menggapai cita-cita itu, yang jauhhhh di langit - sesuai yang diharapkan oleh setiap orang tua, “gantungkan cita-citamu setinggi langit”.

jujur saja, kalau sekarang ditanya apa cita-citaku? aku nggak bisa jawab. mau bilang pengen jadi HR consultant, beuh emang apa yang aku tahu tentang pengembangan SDM ? sempet ada bayangan pengen jadi Brand Advocate atau Brand/Product Development Expert, hwawawa… baca buku Consumer Behavior atau majalah2 marketing aja cuma buat bikin tugas ama skripsi… aku jadi bertanya-tanya, is it that i really want ? atau karena tuntutan “materiil” ?? karena daerah itu sepertinya “lahan basah”. Ah, rasanya memang aku tidak punya cita-cita. Hanya terbawa angin. Angin apa yang menghempasku, kuikuti saja.

Pun aku rasanya sudah tidak mengenali siapa diriku lagi. Tidak sejengkal tubuhku. Tidak sehelai rambutku. Tidak sekilas pandanganku. Tidak sekecap rasaku.
Seminggu yang lalu, ketika aku disodori secarik kertas dan diminta untuk menuliskan apa kelemahan dan kelebihanku, huh! itu rasanya seperti mengerjakan 20 soal matematika aljabar, padahal sudah sekian tahun semenjak aku lulus sma (huh, sma kelas 3 pun aku sudah tidak dapat matematika karena di ips).
Lebih lagi ketika aku harus mengisi sebuah kertas yang berisi 20 baris isian dengan kata pertama yang sama,
“Saya __________________________”
rasanya sulit sekali mengisinya. ketimbang mengisi dengan kalimat2 yang “menjual” (hehe, itu rekrutmen) aku malah mengisi dengan kalimat-kalimat konyol seperti, “saya suka jalan-jalan” “saya ingin kurus, supaya bisa pakai baju yang bagus-bagus” hahaha…

tertawa. bukan tawa bahagia. miris.