
Theme Song: Auld Lang Syne
Seharusnya sore ini aku dan teman-teman (People Puppet’s Project, Jogjakarta 2006) berlaga di pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta 2006, yang bertempat di Alun-Alun Utara, Keraton Jogjakarta, dengan boneka-boneka besar kami. Seharusnya sore ini kami dengan bangga mempertontonkan hasil karya kami selama 2 minggu terakhir: si ‘anti-RU APP’ cangik, si ‘bijak’ semar, si ‘pintar’ gareng, si ‘jenaka’ bagong, si ‘jahat’ banaspati, dua ekor ayam aduan raksasa kami yang siap menghampiri para penonton, dan sederetan figur-figur lainnya yang kami bangun bersama. Manusia punya rencana, Tuhan yang mengatur segalanya… Gempa dengan kekuatan 6,2 skala richter menghempas kawasan bantul, klaten dan sekitarnya di pagi hari itu. Di hari sabtu kelabu yang seharusnya menjadi hari ke-5 workshop kami.
Kalau biasanya kami berkumpul jam 9 pagi di bangsal layang-layang, padepokan bagong kussudiardja, pagi itu kami tidak melakukannya. Padahal malam sebelumnya sempat terbersit di benakku, “wah lumayan besok hari terakhir workshop untuk minggu ini, hari minggu bisa libur sehari untuk mengembalikan stamina dan siap menghadapi 2 minggu yang akan sangat padat!” Ya memang, minggu ke-2 workshop jadwalnya jauh lebih padat karena kegiatan baru akan berakhir jam 10 malam. Maklum, minggu itu dijadwalkan boneka-boneka raksasa kami sudah hampir jadi dan kami pun akan mulai merancang skenario, menggabungkan dengan musik-musik yang dengan indahnya sudah dipersiapkan oleh tim musik, bahkan memainkannya bersama-sama.
Apa daya… hari sabtu itu aku memilih untuk tetap di rumah. Getaran akibat gempa itu sangat dahsyat. Yang ada di bayanganku adalah bangsal layang-layang yang sudah rata dengan tanah dan puing-puingnya menghancurkan semua rangka-rangka boneka raksasa yang telah kami bangun hampir seminggu terakhir ini. Aku pun lebih memilih bersama orang-orang yang kucintai di saat-saat yang penuh dengan ketidakpastian itu. Pada saat yang sama berkecamuk di pikiranku, bagaimana nasib teman-teman baruku yang sebagian besar dari mereka rumahnya di daerah Bantul: Bu Yudia, Pak Landung, Pak Pur, Mbak Galuh, Eko, Andi, Mas-mas dari tim musik yang aku tidak tahu namanya…
Minggu malam aku mendapat sebuah sms dari mbak galuh (koordinator PPP Jogjakarta 2006), besok pagi (senin pagi, h+3 gempa) kami diundang untuk berkumpul karena teman-teman dari Snuff Puppets akan kembali ke Australia, mereka ingin berpamita. Sedih? Jelas… meskipun hanya seminggu aku mengenal mereka (SP + teman-teman di workshop) tapi seluruh proses yang kami lalui membuat aku merasa telah mengenal mereka bertahun-tahun. they are so nice!!! =)
Senin pagi itu rasanya enggan ingin berangkat ke padepokan, tapi daripada aku menyesal tidak bisa melalui saat-saat perpisahan dengan teman-teman, aku berangkat juga ke padepokan. Di sana Desi, Putut, Alexis, Ria, Meta, Ian, Andy, James, Danielle, Bu Jeannie, Mbak Cempluk, Mas Chindil dan banyak lagi teman-teman sudah berkumpul. Beberapa berita menyedihkan kudapatkan, rumah mbak Galuh rata tanah…
mas **** (lupa namanya) kejatuhan eternit rumahnya ketika melindungi istrinya. Kami semua cemas, tidak ada kabar dari Bu Yudia (rumah dia jauh di selatan, Pundong) sampai ada dering telpon di telpon Pak Landung dan itu dari Bu Yudia. Rumahnya luluh lantak dan dia pun masih menangis… Oh Tuhan, semoga ini adalah cobaan dari-Mu, bukan azab-Mu.
Kami semua melepas kepergian Ian, Danielle, Andy dan James dengan rasa sedih dan ganjalan di hati. Mereka menuju Denpasar (via Adisumarmo, Solo) siang itu. Rabu mereka akan kembali ke Australia.
People’s Puppet Project tidak batal… tapi ditunda, setahun lamanya.
Sampai jumpa lagi di Pembukaan FKY 2007.
Auld Lang Syne
Should auld acquaintance be forgot
And never brought to mind
Should auld acquaintaince be forgot
And auld lang syne.
For auld lang syne, my dear,
For auld lang syne,
We’ll tak’ a cup o’ kindness yet
For auld lang syne.
And surely you’ll be your pint stowp
And surely I’ll be mine,
And we’ll drink a richt guid willy waught
For auld lang syne.
We twa hae run aboot the braes
And pu’d the gowans fine,
But we’ve wandered monie a wearie fit’
Since auld lang syne.
We twa hae paidled in the burn
Frae morning sun till dine
But seas a’tween us braid hae roared
Since auld lang syne
And here’s a hand my trusty fere
And gie’s a hand o’ thine
And we’ll tak’ a cup o’ kindness yet
For auld lang syne.